Senin, 24 Mei 2010

Perintah Supaya Saling Mengasihi

Love, Obey & Joy ( Yoh 15:9-11)
Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno
Yoh 15:9-11 merupakan dorongan Tuhan setelah membahas 8 ayat. Bagian tersebut diberi judul baru “Perintah supaya saling mengasihi”. Sedangkan perikop sebelumnya berjudul “Pokok anggur yang benar”. Sebenarnya topik dasar Yoh 15:1-27 yaitu relasi/persekutuan antara Allah dan umat­Nya dengan Kristus sebagai mediator.
Mengenai relasi tersebut, Tuhan memberi ilustrasi/figurasi dimana Bapa di Surga sebagai The Owner, Kristus jadi pokok anggur dan umatNya adalah carang. Lalu prinsip dasarnya diungkap di ayat 8. Sehingga mereka akan berbuah banyak. Kalau tidak, ranting itu akan dipotong, dibuang hingga jadi kering dan dibakar.
Di ayat 9 Tuhan mulai membahas hakikat inti relasi tersebut. Di ayat 9-11 ada 3 aspek mengenai status orang Kristen dalam relasi itu. Dan secara spesifik ada 3 kata dinyatakan yaitu kasih (ayat 9), ketaatan (ayat 10) dan sukacita (ayat 11).
Pernyataan Tuhan di ayat 15 bisa jadi berbahaya serta dapat dimanipulasi kalau tak dimengerti secara tepat karena kadang manusia sangat egois dan sombong. Setelah itu, Ia juga memberitahukan tugas dan resiko. Tiap relasi pasti mengandung konsekuensi.
Yoh 13:31-16:33 termasuk the exclusive teaching of Christ yang diberikan dan dapat dinikmati hanya oleh 11 murid sejati setelah Yudas diusir. Mereka yang bukan murid/anak Tuhan takkan mampu menjalankannya. Sebaliknya hanya akan menimbulkan ekses negatif. Kecuali kalau mereka bertobat.
Tuhan menuntut pengikut­Nya mengerti konsep relasi secara tepat dan total agar hidup mereka mempermuliakanNya. Sehingga mereka jadi manusia bermakna. Kalau tidak, mereka akan kehilangan nilai dan semua yang dikerjakan jadi sia-sia.
Manusia punya 4 macam relasi tak terhindarkan: (1)dengan Tuhan, (2)dengan diri sendiri, (3)dengan sesama dan (4)dengan alam. Relasi pertama termasuk paling essensial tapi sangat sulit karena tak dimungkinkan lagi atau sudah putus/rusak sejak kejatuhannya ke dalam dosa (Kej 3) yaitu melawan/memberontak terhadap Allah. Itulah kematian.
Maka semua relasinya juga tak dapat dipulihkan. Ia jadi marah, tak dapat berdamai dan menerima diri. Ia mengalami konflik internal karena sadar akan kecacatan, kejelekan, kekurangan dan kejahatannya. Ini bukan sekedar kesadaran psikologis melainkan essensial. Maka Psikologi gagal menyelesaikan problem tersebut yang terlalu rumit karena essensi dasar tak terselesaikan. Ia mulai berhadapan dengan idealisme dan kebobrokannya akibat dosa. Ia ingin tampil baik tapi juga harus mengakui dirinya berdosa, hancur, memalukan, menjijikkan, layak dibenci dan tak sempurna/murni/suci lagi. Tiap orang pernah mengalaminya tapi tingkat kesadarannya beda. Akibatnya, ia sebenarnya jadi takut pada diri sendiri.
Freud berpendapat semua manusia mengandung kegilaan kecuali dirinya sendiri. Lalu ia berusaha menyembuhkan mereka. Maka Carl Jung menyarankan, teori psiko-analisa perlu diterapkan pada diri Freud sendiri karena mungkin ia harus dirawat. Freud jadi marah. Padahal kalau benar, ia seharusnya tak perlu marah.
Manusia juga berseteru, mempersalahkan dan memfitnah sesamanya. Sejak Kej 3:11-12 hubungan mereka jadi paranoid, bermusuhan dan tak indah lagi. Orang di sekeliling jadi ancaman. Hidup jadi gentar, celaka dan tak aman lagi. Tak ada lagi tempat yang enak.
Orang berdosa jadi makin fundamentalis. Kondisi semacam ini sangat menakutkan/ mengerikan karena orang lain boleh dibunuh/dibom/dihancurkan dan tindakan tersebut di­nggap sah. Kebencian sudah merasuk ke dalam diri manusia. Akhirnya homo homini lupus (manusia jadi serigala terhadap sesamanya) jadi kenyataan. Padahal dunia makin maju, modern dan berteknologi tapi tiap orang semakin memproteksi diri.
Hubungan manusia dengan alam juga rusak. Alam semesta ikut terkutuk hingga jadi disharmonis dan saling memakan. Lalu manusia memanipulasi dan mengeksploitasinya hingga hancur. Sebaliknya alam juga menghancurkan manusia. Di Alkitab tercatat beberapa aspek dan yang pertama kali, tumbuh onak duri. Alam yang sebelumnya murni, bersahabat dan tak bermasalah jadi menyakitkan hingga manusia harus waspada. Mawar memang indah tapi berduri tajam.
Keadaan saat ini cukup menakutkan. Dunia makin susah dan panas. Dalam tempo 10 tahun, hutan tropis akan habis. Di Indonesia tinggal 1 hutan tropis di Sumatra yang juga sedang mengalami kehancuran karena ditebangi. Yang di Kalimantan, Sulawesi dan Samosir sudah hancur. KTT Bumi tak berhasil. Pengrusakan hutan dan lapisan ozon yang berlubang berakibat temperatur bumi terus naik, tiap tahun 1/3 derajat.
Di tahun 2050 energi dan cadangan minyak drop tapi tak ditemukan alternatif lain. Di Skandinavia dicoba mencari energi arus bawah laut dengan menggunakan turbin yang sangat besar, kipasnya sekitar 50 meter. Maka kedalaman air harus lebih dari 200-300 meter. Tapi investasinya sangat mahal.
Penyelesaian krisis energi hanya 1 yaitu nuklir. Tapi tak ada reaktor nuklir yang tak bocor. Termasuk yang di Batam dan Serpong. Sekitar 20-80 tahun lagi, efeknya baru terasa. Sungguh sangat menakutkan. Saat ini limbah nuklir tak terselesaikan tapi malah ditanam di bawah laut dalam di dekat Kutub Selatan. Padahal kapasitasnya bertahan hanya selama 75 tahun. Dan yang sudah tertanam berusia 25-50 tahun. Diharapkan akan ditemukan cara menetralisirnya. Sedangkan Greenpeace berusaha menghentikan penggunaannya sebelum laut tercemar radioaktif.
Dunia jadi menakutkan dan mengancam kehidupan hingga orang tak tahu lagi relasi yang sesungguhnya. Dan kunci penyelesaiannya impossible kecuali terjadi dalam diri anak Tuhan. Relasi manusia denganNya harus terselesaikan, barulah semua relasi yang lain dapat diselesaikan.
Kunci relasi terpenting dinyatakan di Yoh 15:9. Hubungan harus berada dalam kasih. Tapi kasih tak dapat dijalankan kecuali manusia connect lagi dengan Sumber dan Diri kasih yang sesungguhnya yaitu Allah. God is love. Maka kalau orang Kristen ingin punya kasih sejati, harus kembali kepadaNya. Ini memang sulit tapi tanpa tindakan tersebut ia takkan mampu mengasihi. Dan ia tak mungkin kembali kepada Allah kecuali Kristus mengasihinya. John Calvin berpendapat, manusia harus menyadari Kristus sebagai pusat. Bapa tak langsung mengasihinya melainkan melalui Kristus. Ketika mengaplikasikan kasih, ia harus kembali kepada Kristus, barulah mengerti akan kasih Allah. Inilah kuncinya. Tanpa pengertian Kristologi yang benar, ia takkan mengerti kasih sejati.
Ironisnya, manusia malah masuk ke dalam konflik antara kasih sejati dan palsu. Dunia sebenarnya tahu kalau ingin berelasi baik, harus mengasihi. Tapi mereka tak mampu mengerti kasih meskipun ada banyak istilahnya. Mereka mengasihi dengan kasih yang bukan dari Allah. Ada 4 format kasih di dunia:
(1)Kasih bersifat beneficial/kasih utilitarianistik. Inilah yang terbanyak kuantitasnya dan paling rusak. Kasih tersebut berbasis pada konsep utility dan berdasarkan filosofi utilitarianisme yang membentuk budaya modern. Prinsipnya ialah asas manfaat. Di dunia, kasih yang terbanyak dijalankan yaitu mencintai orang lain yang menguntungkan diri sendiri. Kalau tidak, ia tak lagi cinta. Ketika dunia mencintai, yang terbesar ialah cinta bisnis, mulai dari orang berpendidikan hingga sederhana. Inilah nuansa mayoritas konsep cinta di dunia yaitu kasih kondisional.
(2)Kasih karena ketakutan/keharusan/respect pada otoritas yang lebih tinggi. Contoh, dengan pimpinan karena takut dipecat. Ini mendekati konsep benefit tapi masih ada personal.
(3)Kasih karena tanggung jawab. Ada keterpaksaan karena kalau tidak, namanya akan jelek dan dianggap tak berhati nurani. Mengasihi memang seharusnya karena hidup bersosial tak boleh membenci. Jadi, untuk menyatakan pertanggungjawaban hidup, ia harus mengasihi semua orang. For­at tersebut terbanyak dipakai oleh orang Tionghoa dan Kristen.
(4)Kasih karena kesamaan tertentu. Contoh, perantau di negara lain ketika bertemu orang berkebangsaan sama, biasanya bisa lebih dekat dan perhatian. Inilah kasih persaudaraan menurut Alkitab. Atau kesamaan marga, kampung halaman, hobby, alma mater dll. Tapi itu bukan kasih yang benar karena yang dikasihi ialah kesamaannya. Misalnya, si A senang main boling dan begitu pula si B. Maka si A dan B jadi saling tertarik sekaligus mengasihi karena mereka senang main boling. Inilah yang dunia lakukan. Mereka sebenarnya tak mengenal cinta sejati melainkan yang humanis. Itu bukan cinta Tuhan. Tapi mereka merasa sudah mencintai.
Allah menghendaki kasih yang diberikan dari Kristus (Yoh 15:9). Calvin sangat keras menekankan signifikansi posisi Kristus sebagai mediator. Kalau orang Kristen merasa mendapat cinta kasih dari Allah, sebelum memandang kepada Kristus, itu belum sah dan mungkin ia jatuh ke dalam cinta palsu. Sedangkan cinta Kristus adalah yang sesungguhnya dan diteladankan pada pengikutNya.
Ada orang merasa tak diberkati maka berdoa dan minta tv 44 inch karena tetangga sebelah baru beli yang flat 29 inch. Ia bermaksud mengalahkan tetangga padahal belum mampu membelinya. Sebenarnya ia punya tv ukuran kecil. Keesokan pagi, ada yang mengantar tv 44 inch. Reaksinya, ia bersyukur dan mengucap terima kasih dalam doa karena Tuhan sangat menyayanginya. Sesungguhnya, itu terjadi bukan karena Allah mencintainya melainkan Setan. Itu bukan jawabanNya tapi Iblis karena doa tersebut muncul dari ego pribadi dan iri hati yang tak cocok dengan sifatNya. Maka Tuhan tak mungkin berkooperasi dengannya. Itu bukan format/cara/citra cinta kasih sejati dalam Kristus yang dinyatakan di Alkitab dan diberikan pada umatNya.
Ketika mencintai, Tuhan rela berkorban. Inilah yang terjadi. Cinta-sejatiNya tak memikirkan keinginan Diri melainkan objek kasihNya. Maka tiap anakNya diminta mengasihi demi orang lain bertobat, termasuk musuh. Cinta yang Kristus tunjukkan tak dapat dimengerti oleh orang berdosa karena cara berpikirnya terbalik.
Kristus yang ialah Pencipta sekaligus Pemilik alam semesta turun ke dunia jadi bayi yang terbatas, harus dipelihara, diberi susu dan makanan. Bukan hanya turun jadi manusia tapi juga jadi budak. Itu merupakan penurunan kualitatif yang sangat menakutkan. Padahal Ia berhak menolaknya karena memang tak harus terjadi. Tak ada keharusan bagiNya untuk datang ke dunia. Kalau manusia pasti tak mau mengalaminya.
Di Yoh 1:11 tertulis, “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaan­Nya itu tidak menerimaNya.” Itulah yang terjadi. Sungguh sakit hatiNya. Seharusnya Ia mampu menghancurkan mereka karena memusuhiNya. Tapi Ia tak melakukannya. Sebaliknya Ia rela dicerca dan dihina. Ia tetap mencintai mereka terus hingga mati di kayu salib. Ia mati dengan cara yang sangat hina dan paling celaka seperti penjahat. Bukan karena kesalahanNya. Ia tak berdosa tapi difitnah dan diperlakukan secara tak adil justru karena cintaNya. Ia juga tak membantah. Bahkan dalam keadaan paling menyakitkan dan menderita yaitu ketika dipaku, Ia masih sanggup mengampuni mereka (Luk 23:34). Semua peristiwa tersebut menggenapkan Yoh 3:16.
cinta Kristus ialah contoh yang harus dipelajari oleh orang Kristen. Relasinya dengan Allah akan pulih ketika Kristus mencintai dan memulihkannya. Tak seorang pun mengerti dan mampu menjalankan cinta kasih sejati kecuali Tuhan mengasihinya terlebih dahulu. Ia datang pada manusia, musuh yang seharusnya mati malah dicintaiNya. Ia mati karena dosa manusia. Alasannya hanya 1 yaitu kasih. That’s the true love yang tak mungkin ada dan dilakukan oleh orang dunia karena sifatnya exclusive. Itulah kasih Allah yang ditanamkan dalam Diri Kristus. Ia sanggup menjalankannya lalu memberikannya pada umatNya (Yoh 15:9).
Dunia takkan mengerti essensi kasih sejati yang tak memikirkan kepentingan diri melainkan orang lain sebagai objek cintanya. Ironisnya, beberapa konsep Kekristenan tercemar oleh kasih dunia. Bahkan kelihatan sekali dalam pelayanan
Seharusnya orang Kristen melayani dengan konsep cinta Tuhan. Semua dilakukan demi kepentinganNya. Kalau perlu, berkorban pun rela. Konsep tersebut harus terus mewarnai Gereja selamanya. Cinta tersebut akan meluap keluar kalau memang ada dalam dirinya dan ia juga berada dalam kasih. Cinta Kristus memang sudah diberikan. Maka Tuhan tak memintanya untuk mencari kasihNya.
Kalau suami mengasihi istrinya dengan sungguh, seharusnya memikirkan yang terbaik untuknya. Demikian pula orangtua yang mencintai anaknya. Bukan menjadikan orang yang dikasihi sebagai alat untuk dimanipulasi. Apalagi dalam pekerjaanNya. Kalau cinta memenuhi diri pekerjaNya, akan membuat mereka termotivasi to do the best sesuai kehendakNya. Maka kesucian, keindahan, keanggunan, kebenaran dan keadilan akan muncul bersama.
Ada orang tak mau melayani bukan karena tak mampu. Atau kalau sudah melayani lalu dikritik, langsung protes/marah karena tak dibayar. Ia merasa sangat dirugikan. Tapi kalau dilakukan dengan cinta kasih sejati, akan memotivasi untuk melayani dengan baik. Pengorbanan dan segala yang dikerjakan akan jadi sangat indah bersamaNya. Ironisnya, justru orang Kristen seringkali kekeringan cinta kasih.
CintaNya seharusnya mengisi orang percaya sehingga mau membawa berita Surga pada sekelilingnya. Ketika cinta agape/ilahi dijalankan, dunia akan tahu bedanya (qualitative difference) tapi tak mampu menjalankannya. Cinta tersebut telah menunjukkan kualitas tertentu. Sungguh cinta yang murni dan menginginkan yang terbaik, benar, adil dan suci karena itulah sifatNya.
Kasih bukan teori dengan segala aturan melainkan justru praktis/riil dalam Kristus sebagai teladan. Calvin berpendapat, relasi Allah dan manusia tak dapat dilepaskan dari Kristus. Maka ketika mengasihi, orang Kristen harus memandang dan meneladaniNya. Dan kasih yang dipakai ialah pemberianNya yang akan merubah hidupnya.
Tuhan menghendaki anakNya jadi reflektor kasih. Dunia sudah sangat gersang dan mengerikan karena tak pernah menyaksikan kasih sejati secara riil. Orang Kristen seharusnya mampu menampilkan dan kembali membangkitkannya karena Allah menghendakinya.
Kasih dan ketaatan akan membawa pada sukacita sejati (Yoh 15:11). Itu akan terjadi kalau orang Kristen berada dalam cinta kasih sejati. Cinta palsu takkan memberi sukacita sejati melainkan sekedar ilusi.
Akan sangat menyenangkan berada di sekitar orang bermuka ceria/penuh senyum. Memang ada orang yang Tuhan beri karunia tersebut. Ketika bertemu dengannya, orang akan ikut happy. Bahkan orang non-Kristen akan bertobat hanya karena melihat keceriaan jemaat setelah pulang dari kebaktian. Tapi penginjilan tak hanya melalui kesaksian tingkah laku melainkan tetap harus mendengar Injil. Dunia sangat menantikan sukacita. Biarlah Tuhan memakai tiap anakNya untuk berbagi kasih dan sukacita dengan orang lain sehingga dunia jadi lebih cerah sekaligus indah. Amin.?
**) Sumber: http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2002/20021117.htm--> Ringkasan Khotbah : 17 November 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar