Senin, 10 Mei 2010

KATEKESE UMAT

PKKI I (Pertemuan Kateketik antar-Keuskupan se-Indonesia) yang diadakan pada tahun 1977 di wisma Samadi Syalom, Sindanglaya-Jawa Barat berusaha untuk menentukan Arah Katekese di Indonesia dan menghasilkan gagasan Katekese Umat dilihat sebagai Arah Katekese di Indonesia masa kini.
Dalam PKKI II tahun 1980 di wisma Samadi, Klender – Jakarta kembali ditegaskan gagasan Katekese Umat dari PKKI I agar lebih operasional dan akhirnya ditemukan rumusan katekese umat yang terdiri dari 6 hal pokok, yakni :

1. Katekese Umat (KU) diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman/penghayatan iman antara anggota umat/kelompok. Melalui kesaksian, para peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Dalam Katekese Umat tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese Umat mengandaikan ada perencanaan.


2. Dalam Katekese Umat itu kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan pengantara kita menanggapi Sabda Allah. Yesus Kristus tampil sebagai pola hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Baru, yang mendasari penghayatan iman Gereja di sepanjang tradisinya.

3. Yang berkatekese adalah umat, artinya semua orang beriman yang secara pribadi memilih Kristus secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus; Kristus menjadi pola hidup pribadi, juga pola kehidupan kelompok, jadi seluruh umat baik yang berkumpul dalam kelompok-kelompok basis, maupun di sekolah atau perguruan tinggi. Penekanan pada seluruh umat ini justru merupakan salah satu unsur yang memberikan arah pada katekese sekarang. Penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja itu sendiri.

4. Dalam katekese yang menjemaat ini, pemimpin katekese bertindak terutama sebagai pengarah dan pelancar (fasilitator). Ia adalah pelayan yang menciptakan suasana komunikatif. Ia berupaya membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka. Katekse Umat menerima banyak jalur komunikasi dalam berkatekese. Tugas mengajar yang dipercayakan kepada hirarki menjamin agar seluruh kekayaan iman berkembang dengan lurus.

5. Katekese Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Peserta berdialog dalam suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan. Proses terencana ini berjalan terus menerus.

6. Tujuan komunikasi iman itu adalah :
 Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari;
 dan kita bertobat(metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyatan hidup sehari-hari;
 dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan hidup kristiani kita makin dikukuhkan;
 sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat.
Berdasarkan rumusan PKKI II tersebut nampak beberapa aspek katekese umat yang harus diperhatikan, yaitu:

Subyek Katekese Umat
Subyek katekese umat tidak lain adalah umat atau peserta , sebagai persekutuan dalam kasih kristiani. Melalui prose katekese umat :
 berguru pada Yesus Kristus sebagai Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan
 saling membantu(sharing) menggali makna hidup dalam terang Injil
 sehingga dapat menjadi saksi-saksi Kristus, yang mampu meresapkan nilai-nilai Injil di lingkungan mereka

Tujuan Katekese Umat
a. membawa umat sampai pada perjumpaan pribadi dengan Kristus, melalui perjumpaan hati dan budi dengan saudara-saudari seiman (mengandalkan pertobatan hati)
b. membentuk dan membina jemaah kristiani, mengembangkan sikap-sikap dan karisma-karisma pribadi untuk melayani sesama

Syarat-syarat Katekese Umat
Proses katekese umat dilaksanakan memenuhi beberapa syarat berikut ini :
 Berpusat pada peristiwa Yesus Kristus (kristosentris), seperti katekese pada umumnya yang bertolak dari ajaran Kristus dan bertujuan membawa umat pada kesempurnaan Kristus
 Tumbuh dari pengalaman-pengalaman iman pribadi, karena yang dikomunikasikan adalah pengalaman iman yang diangkat dari pengalaman hidup sehari-hari setiap anggota umat Allah.
 Mengakar dalam kehidupan Gereja, merupakan syarat yang harus ditanamkan kepada umat/peserta katekese umat. Berkatekese umat bukan merupakan segala-galanya bagi anggota Gereja, sehingga mengabaikan liturgi, pelayanan, persekutuan, dan bentuk-bentuk pewartaan lain. Justru katekese umat bermaksud umat semakin menghayati kehidupan menggereja.
 Berinkulturasi menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat masa kini adalah syarat penting untuk membuat katekese umat menjadi bentuk alternatif pewartaan dan pendidikan iman yang mampu berkembang dalam dan bersama perkembangan jaman yang kian pesat. Dengan demikian, katekese umat akan mampu selalu memberikan tanggapan yang memadai terhadap kebutuhan umat.
 Sikap saling menghargai dan mengasihi antar peserta (peserta sebagai ‘sesama’) penting tertanam dalam diri setiap peserta dan fasilitator katekese umat. Hanya dengan saling menghargai umat dapat menciptakan.
 Suasanan persaudaraan yang akrab dan damai, yang merupakan iklim kondusif bagi berlangsungnya komunikasi iman.
 Terjadi dalam kelompok-kelompok kecil. Bila kelompok terlalu besar, jumlah anggota kelompok terlalu banyak sapaan antar pribadi biasanya tidak mendalam. Relasi yang terbangun pun akhirnya hanya relasi dangkal, penuh basa-basi. Situasi semacam ini menyulitkan tumbuhnya interaksi iman, yang sebenarnya mengandung unsur penyerahan diri satu terhadap yang lain di antara peserta.
Syarat ini nampaknya sejalan dengan gerakan Komunitas Basis Gerejani (KBG) yang saat ini tengah digiatkan oleh Gereja Katolik. Pembentukan kelompok-kelompok kecil umat yang diharapkan mampu secara mandiri mendalami Sabda Allah, menggali pengalaman imannya, menjalani kehidupan sebagai umat Allah, seraya mewartakan iman Gereja, merupakan kekuatan luar biasa yang akan menjamin keberadaan Gereja di tengah arus dan tantangan jaman yang makin sulit. Terutama keberadaan Gereja bagi kaum marjinal.
 Pemimpin sebagai fasilitator atau pemudah proses komunikasi saja. Kesertaan peserta menuntut penerimaan sharing pengalaman iman dari pihak mana pun di antara peserta. Sikap menggurui dna menyalahkan tidak tepat diberlakukan dalam proses katekese umat. (Dalam pengalaman melaksanakan proses katekese umat, seringkali ditemukan pula tanggapan yang kurang atau tidak sesuai dengan topik yang dibicarakan. Bila situasi ini terjadi, seorang fasilitator katekese umat harus secara cermat dan bijak menanganinya, agar proses tidak menyimpang dari tujuan)
 Berkomunikasi dengan seluruh tradisi hidup kristiani sepanjang sejarah (iman Gereja Perdana – sekarang), merupakan rantai penghubung bagian-bagian sejarah penyelamat Allah. Katekese umat yang sekarang dilaksanakan oleh umat merupakan kelanjutan dan upaya pewartaan para rasul jaman Gereja Perdana dan merupakan titik tolak upaya pewartaan Gereja dimasa depan.
 Berempati terhadap gejolak-gejolak sosial dan perubahan umum dalam masyarakat menunjukan bahwa Gereja selalu berusaha mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat sekitarnya. Iman yang dikomunikasikan dalam proses katekese umat pun akan menjadi iman yang mati bila tidak terwujud di dalam kehidupan konkret umat, yang tak lepas dari gejolak dan perubahan dalam masyarakat.
 Untuk mampu berempati terhadap dinamika kehidupan masyarakat, proses katekese umat perlu didukung oleh analisis sosial untuk menghidupkan kesadaran situasi kondisi di bidang budaya, religius, sosial, ekonomi, politik.

=============
sumber : http://kristianitas.blogspot.com/2008/12/katekese-umat.htmlDiposkan oleh Agustinus Yongki Saputra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar